Fenomena Second Account Sebagai Respons Gen Z Terhadap Tekanan di Media Sosial Instagram
ARTIKEL AKADEMIK
Fenomena Second Account Sebagai Respons Gen Z Terhadap Tekanan di Media Sosial Instagram
Nikson Eliezer Butar Butar
Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas
Ilmu Komunikasi
Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
E-mail: niksoneliezer@gmail.com
ABSTRACT: The
phenomenon of second accounts on Instagram has become an adaptive strategy for
Generation Z in responding to socio-psychological pressures in digital spaces.
Social media not only facilitates interpersonal communication but also shapes
homogenized social expectations through digital mass communication. While main
accounts are often used for ideal self-presentation, second accounts serve as
private spaces for more honest and emotional expression. This article analyzes
the use of second accounts as a response to social media pressure and
behavioral homogenization, and their role in helping Gen Z maintain emotional
balance and manage digital identity. Using a communication psychology approach,
the study highlights second accounts as safe spaces and adaptive tools within
the dominant culture of social media.
Keywords: Second Account, Gen Z, Instagram, Social Pressure, Homogenization, Mass Communication, Digital Identity, Socio-Psychological, Communication Psychology.
ABSTRAK: Fenomena second account di Instagram menjadi strategi adaptif yang digunakan Generasi Z untuk merespons tekanan sosiopsikologis di ruang digital. Media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi interpersonal, tetapi juga membentuk ekspektasi sosial yang homogen melalui komunikasi massa digital. Akun utama sering digunakan untuk pencitraan diri ideal, sementara second account dimanfaatkan sebagai ruang ekspresi diri yang lebih jujur dan emosional. Artikel ini menganalisis penggunaan second account sebagai respons terhadap tekanan sosial media dan efek homogenisasi, serta peranannya dalam menjaga keseimbangan emosional dan identitas digital Gen Z. Dengan pendekatan psikologi komunikasi, artikel ini menunjukkan bahwa second account berfungsi sebagai ruang aman dan bentuk adaptasi terhadap dominasi budaya media sosial.
Kata Kunci: Second Account, Gen Z, Instagram, Tekanan Sosial, Homogenisasi, Komunikasi Massa, Identitas Digital, Sosiopsikologis, Psikologi Komunikasi.
PENDAHULUAN
Instagram telah berkembang menjadi ruang komunikasi publik dan pribadi yang sangat dinamis di era digital. Fadhillah & Nurhadi (2022) mengatakan bahwa instagram pada awalnya dikenal sebagai platform visual untuk berbagi foto dan video, memungkinkan pengguna membangun galeri pribadi dan menampilkan berbagai aspek kehidupan. Melalui fitur feed, Stories, Reels, dan IGTV, Gen Z memanfaatkannya untuk mengekspresikan identitas diri dan membangun personal branding secara strategis.
Selain sebagai ruang publik, Instagram juga menyediakan fasilitas komunikasi privat melalui fitur Direct Message (DM), Close Friends di Stories, dan kini Broadcast Channels. Fitur-fitur ini memungkinkan interaksi yang lebih intim dan personal, di mana pengguna dapat berbagi konten atau pesan hanya dengan kelompok tertentu tanpa diketahui audiens yang lebih luas. Perkembangan ini menunjukkan adanya pergeseran perilaku pengguna dari interaksi yang bersifat terbuka dan publik menuju interaksi yang lebih privat dan selektif, sejalan dengan kebutuhan akan ruang aman untuk mengekspresikan diri tanpa tekanan sosial yang berlebihan Uddin et al. (2024).
Lebih jauh Uddin (2024), Instagram
juga berperan sebagai media komunikasi strategis bagi individu maupun
organisasi. Melalui berbagai fitur yang ditawarkan, efektivitas komunikasi
dapat ditingkatkan, baik untuk membangun keterlibatan (engagement) dengan
audiens, menyampaikan pesan secara kreatif, maupun memperkuat hubungan personal
dan komunitas. Sehingga, Instagram tidak hanya menjadi ruang pamer visual,
tetapi juga wadah interaksi sosial yang adaptif terhadap kebutuhan komunikasi
publik dan privat penggunanya.
Menurut Mufidah et al. (2025), tekanan validasi sosial
dari media sosial seperti Instagram telah berdampak signifikan terhadap
kesehatan mental mahasiswa, termasuk munculnya kecemasan dan stres akibat
ekspektasi sosial digital. Di Instagram, Gen Z sering merasa
terdorong untuk menampilkan citra diri yang ideal dan menarik demi mendapatkan
pengakuan dari lingkungan digital mereka. Hal ini mendorong mereka untuk
mengedit foto, memilih momen terbaik, hingga menyusun caption yang sesuai
dengan tren dan ekspektasi audiens. Selain itu, kebutuhan akan validasi
sosial, seperti jumlah likes, komentar, dan followers menjadi tolak ukur
popularitas dan penerimaan sosial di kalangan Gen Z. Mereka kerap mengalami
kecemasan jika unggahan tidak mendapat respons yang diharapkan, sehingga muncul
perasaan kurang percaya diri atau bahkan minder.
Tekanan untuk selalu tampil sempurna juga memunculkan
ekspektasi kesempurnaan yang tidak realistis. Standar kecantikan, gaya hidup,
dan pencapaian yang ditampilkan di Instagram sering kali membuat Gen Z
membandingkan diri dengan orang lain, sehingga rentan mengalami stres,
kecemasan, bahkan gangguan kesehatan mental. Fenomena ini memperlihatkan
bagaimana media sosial, khususnya Instagram, menjadi sumber tekanan psikologis
yang signifikan bagi generasi muda saat ini. Media sosial, dalam
hal ini Instagram, tidak hanya berperan sebagai sarana komunikasi
interpersonal, tetapi juga sebagai bentuk baru dari komunikasi massa digital.
Pesan yang tersebar luas dan berulang seperti standar kecantikan, gaya hidup,
dan cara menampilkan diri mendorong terbentuknya homogenisasi perilaku
pengguna, terutama di kalangan Gen Z. Efek komunikasi massa yang bersifat membentuk
keseragaman ini menimbulkan tekanan agar individu menyesuaikan diri dengan
norma-norma visual dan sosial yang dominan. Dalam konteks ini, penggunaan
second account menjadi respons terhadap tekanan psikologi dan sosial untuk
melindungi diri dari tekanan homogenisasi tersebut, sekaligus menyediakan wadah
ekspresi diri yang lebih jujur dan lepas dari ekspektasi publik.
Munculnya fenomena second account di Instagram yang
sering disebut juga sebagai akun alter, spam, atau close friends menjadi salah
satu bentuk penyesuaian diri Gen Z terhadap tekanan di sosial media. Akun kedua
ini biasanya dibuat dengan tujuan membedakan antara ruang publik dan ruang
privat di dunia digital. Jika akun utama digunakan untuk membangun citra yang
lebih formal dan disusun secara terencana, second account justru menjadi wadah
untuk berekspresi secara lebih bebas, jujur, dan tanpa tekanan ekspektasi dari
audiens yang lebih luas. Dalam kenyataannya, second account sering kali hanya diikuti
oleh teman-teman dekat atau orang-orang yang benar-benar dipercaya. Melalui
akun ini, Gen Z dapat membagikan cerita, opini, atau bahkan keluh kesah yang
tidak ingin mereka tampilkan di akun utama. Konten yang dibagikan pun cenderung
lebih spontan, personal, dan tidak terlalu memperhatikan estetika atau jumlah
interaksi, sehingga memberikan rasa aman dan kenyamanan psikologis
bagi penggunanya. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana Gen Z berusaha
menciptakan ruang aman di tengah tuntutan pencitraan dan validasi sosial yang
kuat di media sosial. Anjarsari dan Istiningdias (2022) mencatat bahwa generasi
Z mengembangkan strategi self-help digital melalui media sosial untuk
mempertahankan kesehatan mental dan menghindari tekanan sosial yang
mengekang ekspresi diri.
Melihat kuatnya tekanan media sosial, khususnya
Instagram, yang mendorong Generasi Z untuk menyesuaikan diri dengan norma
visual dan sosial yang dominan, sehingga memunculkan homogenisasi perilaku di
kalangan penggunanya. Efek homogenisasi, sebagaimana dijelaskan oleh Sobur
(2009), merupakan kecenderungan penyamaan perilaku akibat dominasi gambaran sosial
dari media, yang dapat menekan ekspresi pribadi. Kondisi ini menimbulkan
kecemasan, stres, dan tekanan psikologis akibat tuntutan pencitraan diri,
validasi sosial, serta ekspektasi kesempurnaan yang terus-menerus. Sebagai
respons, Gen Z banyak menggunakan second account seperti akun alter, spam, atau
close friends untuk memisahkan ruang publik dan privat, sehingga mereka dapat
mengekspresikan diri secara lebih jujur dan personal tanpa tekanan ekspektasi
dari audiens yang lebih luas.
Dengan memahami bagaimana second account menjadi respons
penyesuaian diri Generasi Z terhadap tekanan sosiopsikologis di Instagram, penelitian
ini bertujuan mengidentifikasi strategi yang digunakan Gen Z dalam mengelola
identitas digital mereka. Istilah sosiopsikologis mengacu pada tekanan yang
berasal dari interaksi antara lingkungan sosial dan kondisi psikologis
individu, termasuk tuntutan sosial, norma kelompok, serta persepsi terhadap
penilaian orang lain. Menurut Mulyana (2012), faktor sosiopsikologis dalam
komunikasi melibatkan dorongan untuk menyesuaikan diri dengan ekspektasi
sosial, yang jika berlebihan dapat mengganggu keseimbangan emosional dan
identitas personal seseorang. Kajian ini juga bertujuan untuk mengeksplorasi
peran second account dalam memfasilitasi ekspresi diri secara apa adanya dan
personal, yang dapat berkontribusi pada kesejahteraan mental Gen Z di era
digital. Berdasarkan latar belakang ini, rumusan masalah penelitian adalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana fenomena
second account di Instagram menjadi respons Generasi Z terhadap tekanan
pencitraan, validasi sosial, dan ekspektasi kesempurnaan di media sosial?
2. Bagaimana second
account memfasilitasi ekspresi diri yang lebih jujur dan personal bagi Generasi
Z, terlepas dari efek homogenisasi perilaku dan ekspektasi publik yang dominan
di akun utama Instagram?
TINJAUAN PUSTAKA
Psikologi Komunikasi dalam Interaksi Digital
Psikologi komunikasi
mempelajari bagaimana pesan diproses, dipersepsi, dan berdampak terhadap
perilaku manusia dalam konteks sosial. Dalam era digital, proses komunikasi
mengalami perluasan makna melalui platform media sosial yang bersifat dua arah
dan visual. Menurut Effendy (2003), komunikasi tidak sekadar penyampaian pesan,
tetapi melibatkan aspek psikologis yang kompleks, terutama dalam membangun dan
mempertahankan identitas diri di ruang publik.
Fenomena penggunaan media sosial, terutama oleh Gen Z, menunjukkan dinamika psikologis yang semakin kompleks, di mana media tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai arena negosiasi identitas, eksistensi, dan penerimaan sosial, (Mulyana 2012). Dalam perkembangan digital saat ini, komunikasi bukan hanya berlangsung secara verbal atau tatap muka, tetapi juga melibatkan berbagai platform digital yang kompleks. Pengguna media sosial, khususnya Generasi Z, membentuk pola interaksi yang kaya akan makna psikologis, seperti kebutuhan akan penerimaan, identitas sosial, dan pembentukan citra diri yang ideal. Dengan memahami dinamika psikologi komunikasi digital, maka penting untuk melihat bagaimana media sosial seperti Instagram menjadi ruang yang membentuk persepsi dan identitas Gen Z. Hal ini menjadi pondasi konseptual untuk menjawab bagaimana tekanan sosial digital mempengaruhi perilaku komunikasi mereka.
Media Sosial, Identitas Digital, dan Validasi Sosial
Instagram sebagai salah satu media sosial visual paling dominan, menjadi wadah bagi Gen Z untuk menampilkan identitas digital mereka. Namun, intensitas penggunaan media ini sering kali berdampak pada tekanan sosial dan kebutuhan validasi yang berlebihan. Lestari & Fatonah (2024) mencatat bahwa tekanan tersebut hadir dalam bentuk tuntutan untuk selalu tampil menarik sesuai standar sosial digital, yang berdampak pada kondisi psikologis pengguna. Zahrah et al. (2025) menambahkan bahwa Gen Z memanfaatkan akun Instagram kedua (second account) sebagai ruang pelarian dari ekspektasi publik, guna mengekspresikan sisi personal mereka secara lebih jujur dan aman. Validasi sosial melalui fitur likes, komentar, dan followers menjadi tolak ukur yang mempengaruhi harga diri dan penerimaan individu dalam kelompok sosial digital. Gen Z sering kali merasa terbebani oleh ekspektasi ini sehingga mereka cenderung membangun identitas alternatif melalui akun lain. Dengan demikian, kajian ini menjadi penting untuk mengidentifikasi bagaimana tekanan validasi sosial ini mendorong Gen Z menggunakan second account sebagai strategi menjaga keseimbangan identitas digital mereka.
Second Account sebagai
Mekanisme Coping Sosial
Fenomena second account muncul sebagai bentuk adaptasi (coping), yang dimana coping sosial merupakan strategi psikologis dan interpersonal yang digunakan untuk mengatasi stres dan tekanan sosial, dalam konteks ini tekanan pada efek homogenisasi perilaku sosial digital. Second account menawarkan ruang aman bagi pengguna untuk menghindari pencitraan dan tekanan validasi, serta untuk mengekspresikan aspek diri yang lebih jujur, (Sobur 2019). Penelitian Anna & Setiawan (2024) menunjukkan bahwa penggunaan akun kedua merupakan strategi sosial dan psikologis untuk menjaga batas antara kehidupan publik dan privat secara digital. Dalam konteks ini, penggunaan akun alternatif merupakan bentuk perlawanan terhadap budaya pencitraan yang homogen, sekaligus memperlihatkan kesadaran kritis pengguna dalam mengelola identitas digital secara strategis. Hal ini menegaskan bahwa second account bukan hanya sarana ekspresi alternatif, tetapi merupakan respon psikologis aktif terhadap tekanan sosial digital yang ingin dikaji dalam penelitian ini.
Tekanan Sosial Digital
dan Gangguan Kesehatan Mental
Tekanan sosiopsikologis yang dihadapi Gen Z dari media sosial berkaitan erat dengan fenomena FOMO (Fear of Missing Out) dan standar hidup yang tidak realistis. Menurut Mufidah et al. (2025), penggunaan media sosial yang tinggi, seperti Instagram, memiliki hubungan yang erat dengan meningkatnya tekanan sosial dan kecemasan pada mahasiswa, khususnya terkait kebutuhan akan validasi sosial dan ekspektasi digital. Selain itu, Hastuti (2018) menekankan bahwa masa remaja merupakan fase kritis dalam pembentukan identitas diri, sehingga penting bagi mereka memiliki ruang aman untuk mengekspresikan perasaan tanpa tekanan dari publik digital. Kecemasan sosial, gangguan citra tubuh, dan stres menjadi gejala umum yang timbul akibat ekspektasi sosial yang tidak realistis terhadap fenomena tersebut. Oleh karena itu, penting untuk mengeksplorasi bagaimana second account dimanfaatkan sebagai alat bantu mengurangi dampak negatif psikologis akibat media sosial, khususnya dalam konteks Gen Z.
Privasi, Personal
Branding, dan Peran Strategis Media Sosial
Selain sebagai sarana ekspresi, media sosial juga berfungsi sebagai alat personal branding. Kriyantono (2015) menjelaskan bahwa akun utama sering dimanfaatkan untuk mempertahankan citra ideal yang dipilih secara cermat dan penuh pertimbangan. Sebaliknya, akun kedua dimanfaatkan untuk menjaga keseimbangan psikologis dan ekspresi jujur. Wulan (2020) menyebutkan bahwa pemisahan akun mencerminkan kebutuhan Gen Z untuk menjaga dua persona satu untuk konsumsi publik dan satu untuk kenyamanan personal. Strategi ini mencerminkan kesadaran digital yang tinggi dalam memanfaatkan media sosial bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai ruang kontrol atas narasi diri yang ditampilkan. Fakta ini memperkuat relevansi penelitian ini dalam melihat bagaimana Gen Z memisahkan identitas publik dan privat melalui second account sebagai bagian dari strategi komunikasi dan kesehatan mental.
PEMBAHASAN
Second Account sebagai Respons Penyesuaian Diri Terhadap Tekanan
Pencitraan, Validasi Sosial, dan Ekspektasi Kesempurnaan
Fenomena penggunaan second account oleh
Generasi Z di Instagram merupakan wujud nyata respons penyesuaian diri yang
signifikan terhadap tekanan sosiopsikologis yang semakin intens dalam ekosistem
media sosial. Sebagaimana dijelaskan dalam pendahuluan, Instagram, yang pada
awalnya dikenal sebagai platform berbagi foto dan video yang menonjolkan aspek
visual, kini mengalami perubahan menjadi arena virtual di mana Generasi Z
seringkali merasa terdorong untuk menampilkan citra diri yang ideal dan
sempurna. Tekanan ini tidak hanya berasal dari dorongan internal, tetapi juga
dari ekspektasi eksternal yang kuat untuk mendapatkan pengakuan dan penerimaan
dari lingkungan digital mereka. Homogenisasi perilaku, yang timbul dari pesan
komunikasi massa digital yang membentuk keseragaman standar kecantikan, gaya
hidup, dan cara menampilkan diri, semakin memperparah tekanan ini. Efek
homogenisasi ini, sebagaimana dijelaskan oleh Sobur (2009) sebagai
kecenderungan penyamaan perilaku akibat dominasi gambaran sosial dari media,
secara langsung menimbulkan kecemasan, stres, dan bahkan memicu gangguan
kesehatan mental di kalangan Gen Z, yang terus-menerus dihadapkan pada tuntutan
pencitraan diri, validasi sosial, serta ekspektasi kesempurnaan yang
tidak realistis.
Pada ranah psikologi komunikasi digital, perilaku ini mencerminkan dinamika yang sangat kompleks dalam membangun, menegosiasikan, dan mempertahankan identitas di ruang publik yang terus diawasi. Kebutuhan akan penerimaan, identitas sosial, dan pembentukan citra diri yang ideal, yang merupakan aspek krusial dalam interaksi digital, membuat Gen Z sangat rentan terhadap tekanan validasi sosial. Fitur-fitur seperti likes, komentar, dan jumlah followers berfungsi tidak hanya sebagai indikator sosial, tetapi telah menjadi tolak ukur popularitas dan penerimaan sosial yang secara langsung memengaruhi harga diri individu dalam kelompok sosial digital. Ketika unggahan mereka tidak mendapat respons yang diharapkan, Gen Z kerap mengalami kecemasan, memunculkan perasaan kurang percaya diri atau bahkan minder. Oleh karena itu, penciptaan second account merupakan sebuah strategi yang disadari untuk merespons dan mengelola tekanan tersebut. Dengan menciptakan akun yang lebih privat dan selektif, Gen Z secara efektif dapat memisahkan persona publik yang terkontrol dan terencana yang biasa ditampilkan di akun utama untuk personal branding dari ekspresi diri yang lebih otentik dan spontan. Langkah ini secara mendasar mengurangi beban psikologis untuk selalu tampil sempurna dan sesuai dengan standar eksternal. Ini adalah upaya nyata untuk mengelola tekanan pencitraan yang telah dijelaskan oleh Lestari & Fatonah (2024) dan secara signifikan berkontribusi pada penurunan kecemasan sosial yang ditemukan oleh Mufidah, Rohman, dan Ismail (2025), mahasiswa Gen Z menciptakan ruang ekspresi pribadi di media sosial agar terlepas dari tekanan validasi eksternal, dan hal ini berperan penting dalam menjaga harga diri serta keseimbangan psikologis mereka. Kajian ini penting untuk mengidentifikasi bagaimana tekanan validasi sosial ini mendorong Gen Z menggunakan second account sebagai strategi menjaga keseimbangan identitas digital mereka.
Peran Second Account dalam Memfasilitasi Ekspresi Diri yang Lebih
Jujur dan Personal
Lebih dari sekadar respons defensif atau
pelarian dari tekanan, second account secara signifikan berperan sebagai wadah
yang kuat untuk memfasilitasi ekspresi diri yang lebih jujur dan personal bagi
Generasi Z. Peran ini menjadi semakin krusial mengingat adanya efek
homogenisasi perilaku dan ekspektasi publik yang dominan di akun utama
Instagram. Konsep second account sebagai mekanisme coping sosial, sebagaimana
dijelaskan oleh Sobur (2019) sebagai strategi psikologis dan interpersonal
untuk mengatasi stres dan tekanan sosial, sangat relevan dan mendasari
pemahaman peran ini. Akun kedua ini secara efektif menyediakan "ruang
aman" bagi pengguna untuk menghindari pencitraan yang dibuat-buat dan
tekanan validasi yang membebani, memungkinkan mereka untuk mengekspresikan
aspek diri yang lebih jujur dan otentik. Sebagaimana diungkapkan oleh Zahrah et
al. (2025), second account tidak hanya menjadi ruang pelarian, tetapi juga
sebuah tempat bagi Gen Z untuk mengekspresikan sisi personal mereka secara
lebih jujur dan dalam lingkungan yang dirasa lebih aman. Konten yang dibagikan
di second account cenderung jauh lebih spontan, personal, dan tidak terlalu
memperhatikan estetika visual atau jumlah interaksi, berbanding terbalik dengan
akun utama yang sering kali disusun secara terencana dan cermat untuk tujuan
personal branding. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian Anna & Setiawan
(2024) yang dengan jelas menunjukkan bahwa penggunaan akun kedua merupakan
strategi sosial dan psikologis yang efektif untuk menjaga batas yang jelas
antara kehidupan publik dan privat di dunia digital. Penggunaan akun alternatif
ini bahkan dapat dilihat sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya pencitraan
yang homogen, sekaligus memperlihatkan kesadaran kritis pengguna dalam
mengelola identitas digital secara strategis. Dengan demikian, second account
menjadi sarana ekspresi alternatif dan respons psikologis aktif terhadap
tekanan sosial digital yang ingin dikaji dalam penelitian ini.
Dari perspektif privasi
dan personal branding, pemisahan akun ini secara nyata mencerminkan tingkat
kesadaran digital yang tinggi di kalangan Gen Z dalam mengelola narasi diri
mereka. Prasetyo & Kusuma (2023), menjelaskan bahwa mereka (Gen Z) dengan
sengaja menciptakan dua persona digital, satu bersifat publik (akun utama) dan
satunya bersifat privat (akun kedua), untuk menghadapi tekanan media sosial dan
menjaga ruang personal agar tetap otentik. Strategi ini memungkinkan
mereka untuk berbagi cerita, opini, atau bahkan keluh kesah yang tidak ingin
mereka tampilkan di akun utama, sehingga memberikan rasa aman dan kenyamanan
psikologis yang sangat penting bagi penggunanya. Fakta ini memperkuat relevansi
penelitian ini dalam melihat bagaimana Gen Z memisahkan identitas publik dan
privat melalui second account sebagai bagian dari strategi komunikasi dan
kesehatan mental. Masa remaja merupakan fase kritis dalam pembentukan identitas
diri, sehingga penting bagi mereka memiliki ruang aman untuk mengekspresikan
perasaan tanpa tekanan dari publik digital. Second account menjadi upaya penyesuaian
diri yang efektif agar mereka tetap bisa mengekspresikan diri secara apa adanya
tanpa takut penilaian atau tekanan untuk selalu tampil sempurna di hadapan
publik digital, untuk mencapai keseimbangan psikologis dan menjaga integritas
diri di tengah tuntutan pencitraan dan validasi sosial yang kuat di media
sosial. Fenomena ini secara tegas mengindikasikan bahwa second account adalah
alat bantu penting dalam mengurangi dampak negatif psikologis akibat media
sosial bagi Gen Z, secara langsung memfasilitasi keaslian ekspresi diri yang
krusial bagi kesejahteraan mental mereka di era digital yang kompleks. Oleh
karena itu, penting untuk mengeksplorasi bagaimana second account dimanfaatkan
sebagai alat bantu mengurangi dampak negatif psikologis akibat media sosial,
khususnya bagi generasi Z.
KESIMPULAN
Fenomena penggunaan second account di kalangan Generasi Z
di Instagram mencerminkan respons sosiopsikologis yang kompleks terhadap
tekanan media sosial yang kuat, terutama terkait pencitraan, validasi sosial,
dan ekspektasi kesempurnaan. Dalam ruang digital yang terus diawasi dan penuh
dengan tuntutan estetik serta performa sosial, Gen Z cenderung membentuk dua
persona digital, akun utama sebagai representasi citra ideal untuk konsumsi
publik, dan second account sebagai ruang ekspresi diri yang lebih jujur,
emosional, dan personal.
Temuan utama dalam penelitian ini menunjukkan bahwa
second account tidak hanya berfungsi sebagai saluran komunikasi alternatif,
tetapi juga sebagai strategi coping psikologis terhadap efek homogenisasi
perilaku yang ditimbulkan oleh komunikasi massa digital seperti Instagram.
Second account memberikan ruang aman bagi Gen Z untuk membebaskan diri dari
ekspektasi sosial dan mengurangi tekanan mental yang muncul akibat perbandingan
sosial, kebutuhan validasi, serta pembentukan citra diri yang tidak realistis.
Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa fenomena
second account perlu dipahami sebagai bagian dari strategi penyesuaian diri
yang sehat, sekaligus sebagai bentuk kesadaran kritis atas identitas digital.
Bagi akademisi, pemahaman ini membuka ruang untuk mengkaji ulang peran media
sosial dalam pembentukan konsep diri dan kesejahteraan psikologis pengguna
muda. Bagi praktisi pendidikan dan keluarga, penting untuk membangun literasi
digital dan dukungan psikososial agar Gen Z mampu mengelola tekanan sosial
media secara sehat tanpa kehilangan keaslian diri.
DAFTAR
PUSTAKA
Effendy, O. U. (2003). Psikologi
komunikasi. Remaja Rosdakarya.
Hastuti, N. D. (2018). Psikologi
perkembangan remaja. UGM Press.
Kriyantono, R. (2015). Teknik
praktis riset komunikasi. Kencana.
Mulyana, D. (2012). Ilmu
komunikasi: Suatu pengantar. Remaja Rosdakarya.
Sobur, A. (2009). Semiotika
komunikasi. Remaja Rosdakarya.
Wulan, A. (2020). Remaja
dan media digital: Tantangan komunikasi di era siber. Prenadamedia Group.
Anjarsari, F., &
Istiningdias, D. S. (2022). Narasi self-help generasi Z dan masyarakat tradisional: Sebuah kajian produksi
kebudayaan. Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan, 17(2), 103–118.
Anna, A., & Setiawan,
R. (2024). Pemisahan identitas sosial akun Instagram mahasiswa pendidikan sosiologi Untirta. Edu Sociata,
3(2), 45–58.
Fadillah, R. A., &
Nurhadi, M. (2022). Strategi personal branding generasi Z di Instagram. Jurnal Pustaka Komunikasi, 5(2),
66–77.
Lestari, E., & Fatonah,
U. (2024). Sosialisasi dampak perkembangan teknologi dan internet pada generasi Z di Banjarmasin. Jurnal
Damhil, 9(1), 30–41.
Mufidah, A., Rohman, U.,
& Ismail, S. (2025). Pengaruh intensitas penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental mahasiswa UIN
Sunan Gunung Djati Bandung. Jurnal Psikologi
Insight, 7(1), 23–34.
Prasetyo, A., &
Kusuma, I. (2023). Identitas ganda dalam media sosial Instagram: Studi pada mahasiswa komunikasi Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta. Jurnal Ilmu Komunikasi
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 8(1), 12–24.
Uddin, B., Maharani, A.
Z., & Baren, K. W. A. (2024). Pemanfaatan fitur Instagram untuk efektivitas komunikasi. Jurnal
Nasional Komputasi dan Teknologi Informasi (JNKTI), 7(6), 1505–1510.
Zahrah, N., Suhasman, S.,
& Akbar, M. (2025). Pengaruh second account Instagram terhadap pengungkapan diri dan manajemen
privasi generasi Z. Jurnal Al-Kalam, 13(1), 12–26.

Komentar
Posting Komentar